Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 ... 19 >>
Ketika kita menjalankan Apache baik menggunakan XAMPP atau WAMPP maka kita akan mendapatkan bahwa port 80 dalam keadaan sibuk atau busy seperti gambar berikut.

Hal ini membuat Apache tidak bisa dijalankan pada port 80. Ada beberapa solusi yang bisa digunakan.
Cara pertama Apache mengalah dengan dijalankan di port lain misalnya port 8080 atau port lain yang kosong. Sebagai catatan jika juga menjalankan Apache Tomcat maka jangan gunakan port 8080 karena port tersebut port default Apache Tomcat. Kemudian di browser URLnya menjadi http://localhost:8080.
Penyebab dari masalah ini adalah pada Windows 7 port 80 dipakai secara default oleh kernel Windows. Hal ini bisa kita lihat dengan mengetikkan netstat -ano pada Command Prompt. Hal ini tetap terjadi walaupun kita tidak menginstall IIS yang menggunakan port 80 ini (HTTP). Port ini dikuasai oleh System / kernel dengan PID 4.
Bagaimana solusinya?
Kita bisa men-disable http.sys service secara manual dari registry:
1) Jalankan RegEdit:
2) Pergi ke: HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Services\HTTP
3) Tambahkan sebuah DWORD (32-bit)
4) Beri nama ‘NoRun’ (tanpa tanda kutip).
5) Double klik NoRun tersebut
6) Pada bagian Value data field ketik ’1′ (tanpa kutip) dan klik OK
7) Re-boot komputer.
Setelah ini maka Apache sudah bisa dijalankan di port 80 dan di browser cukup ketik http://localhost
Selamat mencoba.
Di Android sudah ada settingan untuk pilihan 2G only, ini bertujuan untuk menghemat baterai. Tapi bagi anda yang pake internet justru pengen tetep di jaringan 3G. Misalkan ada 2 BTS dekat anda(misal A dan B ), BTS A jaringannya sudah 3G dan BTS B belum. Android akan pilih BTS berdasarkan sinyal yang paling kuat, jika sinyal yang diterima dari BTS A lebih kuat, maka jaringan anda 3G, tapi kalau anda pindah posisi dan sinyal BTS B yang lebih kuat, maka anda akan hanya dapet GPRS. Bagaimana mensiasatinya:
1. masukkan *#*#4636#*#* di dialer phone

2. pilih phone information

3. di bagian set prefered network type ubah setting default menjadi WCDMA only

4. Beberapa saat kemudian notifikasi sinyal data berubah dari 2G/EDGE menjadi 3G atau HSPDA apabila tersedia

Selamat mencoba.

Platform Android memang layak digadang-gadang bakal menorehkan prestasi di kancah persaingan platform aplikasi mobile. Sebab, jika dibandingkan dengan pesaingnya, sistem operasi besutan Google ini memiliki lebih banyak aplikasi pendukung yang gratis.
Menurut riset yang dikeluarkan oleh lembaga penelitian aplikasi mobile Disitmo, sebanyak 57% aplikasi yang berjalan di Android gratisan alias bisa diunduh dan digunakan secara cuma-cuma.
Jumlah ini jauh mengungguli aplikasi gratis dari para pesaingnya. Platform terdekat yang mengekor Android adalah Palm dengan 32%. Sementara Apple dan BlackBerry menguntit di tempat ketiga dan keempat dengan presentase aplikasi gratis 25 dan 24%.
Adapun tempat terbuncit dari riset ini diisi oleh Windows Mobile dengan 22% di posisi kelima dan Nokia dengan platform Ovi-nya sebagai juru kunci dengan 15%. Artinya sebanyak 85% aplikasi yang beredar di platform Nokia adalah berbayar.
Sementara untuk kategori ‘aplikasi termahal’, BlackBerry didapuk Disitmo untuk menyabet gelar tersebut. Aplikasi yang beredar di platform BlackBerry rata-rata dijual seharga US$ 8,26, sedangkan yang termurah diraih oleh Palm dengan harga rata-rata US$2,53.
Dilansir dari TG Daily, BlackBerry dilabeli gelar aplikasi termahal sebab rata-rata aplikasi yang wara-wiri di platform tersebut merupakan aplikasi bisnis yang diperuntukkan untuk pengguna kalangan enterprise.
Sementara Android yang berbasis open source lebih dimanfaatkan para pengembang untuk membuat aplikasi di atasnya sekadar untuk ‘main-main’. Maksudnya tidak semata-semata untuk mengejar keuntungan.
Ket. gambar: statistik riset Disitmo
MENTERI Pendidikan Nasional (Mendiknas) M. Nuh mengatakan bahwa guru besar Indonesia belum mumpuni. Pernyataan itu disampaikan ketika Mendiknas mengadakan pertemuan dengan kalangan media di Surabaya beberapa waktu lalu, sehubungan dengan banyaknya pengukuhan guru besar (gubes) yang diselenggarakan perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS).
Mendiknas menyatakan bahwa syarat menjadi gubes relatif mudah. Seorang dosen (PTN maupun PTS) yang memiliki ijazah S-3 dapat mengajukan jabatan menjadi gubes dengan melampirkan sejumlah angka kredit di bidang tridarma perguruan tinggi yang telah diperoleh.
Pernyataan M. Nuh itu perlu menjadi renungan kita semua. Mengapa seorang menteri sampai menyatakan kegundahannya seperti itu?
Dalam menjalankan tugas di perguruan tinggi (PT), seorang dosen (baik gubes atau non-gubes) diwajibkan untuk melaksanakan tridarma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di bidang pendidikan, saya tidak melihat ada hal penting yang menjadi kegundahan Mendiknas. Hampir tidak ada satu pun gubes di Indonesia yang tidak mumpuni di bidang pendidikan.
Demikian juga pengabdian kepada masyarakat yang meliputi kegiatan, di antaranya, ceramah dalam seminar, nara sumber dalam pelatihan, kursus, dan sejenisnya, pasti telah dilaksanakan dengan mumpuni oleh semua gubes di Indonesia. Di bidang penelitian juga tidak ada masalah. Semua gubes pasti telah melakukan kegiatan itu. Di antara keseluruhan aktivitas tridarma perguruan tinggi, kegiatan penelitian minimal 25 persen harus dipenuhi seorang gubes (juga dosen non-gubes).
Kualitas Penelitian Rendah
Lalu, apa yang menjadi kegundahan Mendiknas? Mungkin, jawabannya adalah kualitas penelitian yang dilakukan hampir sebagian besar gubes di Indonesia relatif rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga, apalagi dengan negara maju (Eropa dan Amerika). Diperkirakan, tidak lebih dari 20 persen hasil penelitian gubes di Indonesia menghiasi jurnal internasional. Sebanyak 80 persen lainnya hanya diterbitkan dalam jurnal nasional, bahkan jurnal fakultas atau universitas yang hanya dibaca dan disitir oleh teman sejawat.
Bahkan, tidak ada satu pun hasil penelitian rektor di dua PTN terkenal di Jawa Barat dan Jawa Timur -kalau kita simakcurriculum vitae-nya- muncul di jurnal internasional. Karya internasionalnya terbatas pada naskah yang dipresentasikan di international conferences atau seminars, yang menurut ahli di Barat hanya merupakan forum komunikasi antarahli. Naskah di dua kegiatan itu baru dapat diterima dan dimuat di jurnal internasional setelah di-review sedikitnya oleh dua ahli sebidang. Jika memenuhi syarat, karya itu diterima. Jika tidak memenuhi syarat, ditolak.
Suatu survei oleh Scientific American menunjukkan bahwa kontribusi ilmuwan (termasuk gubes) Indonesia pada khazanah pengembangan dunia ilmu setiap tahun hanya sekitar 0,012 persen (12 publikasi/100.000 ahli), yang jauh berada di bawah kalau dibandingkan dengan USA yang besarnya lebih dari 20 persen. Oleh beberapa ahli barat, jerih payah upaya ilmuwan Indonesia untuk ikut berkontribusi terhadap perkembangan khazanah ilmiah dunia diistilahkanlost science in the third world.
Pernyataan bernada sumbang itu terutama disebabkan hasil yang disumbangkan ilmuwan Indonesia tidak sampai ke hadapan mitra bestari sesama ilmuwannya yang sebidang hanya karena ditulis dalam berkala yang berjangkauan terbatas. Keterbatasannya disebabkan sempitnya sirkulasi persebaran publikasi dan berkala tiras yang sedikit sehingga tidak dilanggan oleh perpustakaan utama pusat kegiatan ilmiah internasional, serta penggunaan bahasa yang tak terbacakan secara luas. Akibatnya, judul tulisan karya ilmuwan Indonesia tak tertampilkan dalam layanan cepat bibliografi dan kata kuncinya tak terambil oleh penyedia pindaian internet.
Keprihatinan Mendiknas sebenarnya terletak pada peraturan yang dibuat oleh Mendiknas sendiri tentang syarat-syarat menjadi gubes. Di dalam peraturan sama sekali tidak ada persyaratan bahwa untuk menjadi gubes harus memiliki karya publikasi internasional. Karena kemudahan itu, banyak fakultas dan universitas mengambil peluang untuk berlomba-lomba membuat jurnal baru di lembaga masing-masing. Banyak dosen membuat penelitian ala kadarnya, lalu memublikasikan di jurnal lembaga masing-masing agar cepat naik jabatan.
Profesor Masturbasi
Karena kemudahan menjadi gubes di Indonesia, kini ada istilah Profesor Masturbasi. Yakni, seseorang yang mendapatkan gelar keprofesorannya melalui karya yang dilakukan sendiri. Penelitian dilakukan sendiri (biaya sendiri, tidak berkolaborasi dengan lembaga lain), ditulis sendiri (tidak di-review oleh ahli sebidang dari negara lain, tetapi di-review oleh teman sendiri), dipublikasikan di jurnalnya (milik lembaga sendiri), lalu untuk naik pangkat/jabatan sendiri. Cerdas juga yang membuat istilah tersebut karena masturbasi memang dilakukan sendiri, bahkan cenderung sembunyi-sembunyi.
Sekarang Indonesia telanjur memiliki begitu banyak gubes. Dan, haruskah kita teruskan mencetak gubes-gubes baru dengan kriteria yang kita miliki sekarang? Sudah saatnya Mendiknas mempertimbangkan untuk membuat persyaratan baru menjadi gubes. Salah satu di antaranya, harus memiliki sedikitnya dua atau tiga publikasi internasional (bukaninternational conferences atau seminars).
Jika persyaratan ini dilaksanakan, niscaya Indonesia akan memiliki gubes-gubes yang mumpuni di segala bidang (tridarma perguruan tinggi). Dan, Mendiknas dijamin tidak akan gundah lagi.
Bagi dosen yang sudah gubes, tetapi belum pernah sama sekali memublikasikan karyanya di jurnal internasional (jumlah gubes ini sangat banyak di Indonesia), inilah saat yang tepat untuk melaksanakan itu(menulis di jurnal internasional). Hal itu tentu saja tidak berlebihan, apalagi berkaitan dengan diberikannya tunjangan profesi dan tunjangan kehormatan kepada gubes. Semoga. (*)
Sumber :
*). Agoes Soegianto, Guru Besar Biologi Lingkungan Universitas Airlangga
Pengen bilang Aku Cinta Kamu? Tapi dia bule.
Bilang aja I Love You.
Kalo dia orang Jepang gimana dong?
Bilang aja Aishiteru.
Kalo dia orang... ah udah deh, ini selengkapnya. Cekidot...
English – I love you
Afrikaans – Ek het jou lief
Albanian – Te dua
Arabic – Ana behibak (to male)
Arabic – Ana behibek (to female)
Armenian – Yes kez sirumen
Bambara – M'bi fe
Bangla – Aamee tuma ke bhalo aashi
Belarusian – Ya tabe kahayu
Bisaya – Nahigugma ako kanimo
Bulgarian – Obicham te
Cambodian – Soro lahn nhee ah
Cantonese Chinese – Ngo oiy ney a
Catalan – T'estimo
Cheyenne – Ne mohotatse
Chichewa – Ndimakukonda
Corsican – Ti tengu caru (to male)
Creol – Mi aime jou
Croatian – Volim te
Czech – Miluji te
Danish – Jeg Elsker Dig
Dutch – Ik hou van jou
Elvish "Amin mela lle"
Esperanto – Mi amas vin
Estonian – Ma armastan sind
Ethiopian – Afgreki'
Faroese – Eg elski teg
Farsi – Doset daram
Filipino – Mahal kita
Finnish – Mina rakastan sinua
French – Je t'aime, Je t'adore
Frisian – Ik hâld fan dy
Gaelic – Ta gra agam ort
Georgian – Mikvarhar
German – Ich liebe dich
Greek – S'agapo
Gujarati – Hoo thunay prem karoo choo
Hiligaynon – Palangga ko ikaw
Hawaiian – Aloha Au Ia`oe
Hebrew – Ani ohev otah (to female)
Hebrew – Ani ohev et otha (to male)
Hiligaynon – Guina higugma ko ikaw
Hindi – Hum Tumhe Pyar Karte hae
Hmong – Kuv hlub koj
Hopi – Nu' umi unangwa'ta
Hungarian – Szeretlek
Icelandic – Eg elska tig
Ilonggo – Palangga ko ikaw
Indonesian – Aku cinta padamu
Inuit – Negligevapse
Irish – Taim i' ngra leat
Italian – Ti amo
Japanese – Aishiteru
Jowo Alus – Kulo tresno salira
Jowo Kasar – Aku tresno kowe
Kannada – Naanu ninna preetisuttene
Kapampangan – Kaluguran daka
Kiswahili – Nakupenda
Konkani – Tu magel moga cho
Korean – Sarang Heyo
Latin – Te amo
Latvian – Es tevi miilu
Lebanese – Bahibak
Lithuanian – Tave myliu
Luxembourgeois – Ech hun dech gäer (Thanks Nadine! x2)
Malay – Saya cintakan mu / Aku cinta padamu
Malayalam – Njan Ninne Premikunnu
Mandarin Chinese – Wo ai ni
Marathi – Me tula prem karto
Mohawk – Kanbhik
Moroccan – Ana moajaba bik
Nahuatl – Ni mits neki
Navaho – Ayor anosh'ni
Norwegian – Jeg Elsker Deg
Pandacan – Syota na kita!!
Pangasinan – Inaru Taka
Papiamento – Mi ta stimabo
Persian – Doo-set daaram
Pig Latin – Iay ovlay ouyay
Polish – Kocham Ciebie
Portuguese – Eu te amo
Romanian – Te iubesc
Russian – Ya tebya liubliu
Scot Gaelic – Tha gradh agam ort
Serbian – Volim te
Setswana – Ke a go rata
Sindhi – Maa tokhe pyar kendo ahyan
Sioux – Techihhila
Slovak – Lu`bim ta
Slovenian – Ljubim te
Spanish – Te quiero / Te amo
Swahili – Ninapenda wewe
Swedish – Jag alskar dig
Swiss-German – Ich lieb Di
Surinam – Mi lobi joe
Tagalog – Mahal kita
Taiwanese – Wa ga ei li
Tahitian – Ua Here Vau Ia Oe
Tamil – Nan unnai kathalikaraen
Telugu – Nenu ninnu premistunnanu
Thai – Chan rak khun (to male)
Thai – Phom rak khun (to female)
Turkish – Seni Seviyorum
Ukrainian – Ya tebe kahayu
Urdu – mai aap say pyaar karta hoo
Vietnamese – Anh ye^u em (to female)
Vietnamese – Em ye^u anh (to male)
Welsh – 'Rwy'n dy garu di
Yiddish – Ikh hob dikh
Yoruba – Mo ni fe
Selamat menyampaikan rasa sayang kamu.