| « Virus Facebook yang ini HOAX | Transformers 2 : Revenge of The Fallen » |
Telah kurang lebih selama 6 tahun saya tinggal di kota pempek Palembang. Dan selama itu pula banyak saya jumpai pengalaman pahit melintas di jalan-jalan kota Palembang. Salah satunya bisa lihat posting saya sebelumnya 'Safety Riding = Bikin orang marah???".
Palembang mungkin tempat yang paling cocok untuk belajar bersab
ar dalam berlalu-lintas, kalimat itu yang terlintas dalam hati ketika saya menyadari lalu lintas di kota Palembang. Betapa tidak, pelanggaran lalu lintas menjadi hal yang biasa dan seakan sudah menjadi kebiasaan yang legal karena aparat yang seharusnya menegakan hukum lalu lintas ini terkadang pun membiarkannya terjadi di depan mata, bahkan terkadang menjadi contoh yang tidak baik.
Berikut beberapa hal yang saya lihat dan alami selama ini:
1. Sepeda motor dan mobil melawan arus. Sepeda motor yang melawan arus bahkan memberi lampu sign untuk memberitahu pengendara dari arah berlawanan bahwa dia sedang berjalan melawan arus. Masih untung badan sepeda motor itu kecil, sedangkan mobil? Mobil tidak kalah berani untuk melawan arus. Dan uniknya, para pelawan arus ini bisa melotot dan mengajak ”begoco” apabila kita tidak memberi dia jalan atau mengklaksonnya (walaupun sebenarnya dia salah).
2. Bus kota dan angkot berhenti walaupun lampu lalu lintas masih menyala hijau. Ini bisa kita lihat di beberapa persimpangan seperti simpang RS. Charitas. Bus kota dengan santainya ngetem (berhenti) walau lampu masih dalam keadaan hijau. Ini sangat mengganggu pengendara di belakangnya. Bahkan bisa saja kendaraan di belakangnya menabrak pantas bus kota tadi yang berhenti dengan tanpa rasa bersalah.
3. Di Palembang menerobos lampu lalu lintas lazim dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh kendaraan. Lampu lalu lintas tidak lagi menjadi patokan untuk berhenti atau mulai berjalan, asalkan di depan kosong maka sudah boleh jalan, itu menurut para pelanggar ini. Apabila kita ada di deretan terdepan, dan jalan sudah terlihat kosong, maka mulailah terdengar klakson, raungan mesin mobil, motor dan bis kota yang membuat pengendara di deretan terdepan merasa takut ditabrak, sehingga mau tidak mau dia harus menerobos lampu lalu lintas yang masih menyala merah.
4. Minimnya pengunaan kaca spion dan penggunaan lampu sign pada saat berpindah lajur. Yang saya rasakan pada saat berkendara di Palembang ini adalah para pengendaranya demikian lincah salip kiri, salip kanan dengan tetap melaju kencang layaknya pembalap. Itu dapat dilakukan karena mereka tidak melihat kiri kanan menggunakan kaca spion dan lampu sign untuk berpindah lajur. Berkali-kali saya harus mengklakson mobil atau motor yang berpindah jalur seenaknya tanpa melihat bahwa di kiri atau kanannya ada kendaraan sehingga berpotensi menimbulkan senggolan. Mobil yang 99% tertempel kaca spionnya pun jarang sekali melirik kaca spion terlebih dahulu untuk melihat apakah di kiri kanannya ada kendaraan atau tidak, kalau di depan ada halangan maka langsung saja ambil jalur sebelahnya, akibatnya kendaraan di sampingnya atau belakangnya yang harus mengerem. Lebih parah lagi sepeda motor, saya hanya melihat segelintir pengendara sepeda motor yang memasang kaca spion standar di kendarannya. Yang paling umum adalah kaca spion variasi (yang hanya bisa melihat tangan kita sendiri atau badan kita sendiri) atau bahkan sama sekali tidak memasang kaca spion.
5. Tidak mengetahui etika berbelok atau berputar. Jika anda akan berbelok atau berputar, maka anda harus mendahulukan kendaraan yang melaju lurus, bukan main potong seenaknya. Tapi di Palembang etika itu tidak ada artinya, jika anda ingin belok atau berputar maka kalau ada celah sedikit maka anda harus ambil saja kesempatan itu, atau kalau perlu tutupi jalannya. Kendaran yang melaju lurus wajib mengerem untuk memberi anda jalan, tidak perduli seberapa kencangnya kendaraan tersebut dia harus memberi jalan karena anda akan belok atau berputar.
6. Marka jalan di Palembang yang minim penggunaannya. Jadi anda bisa berkendara disisi manapun anda suka, mau di tengah, kiri, atau kanan, cepat ataupun lambat, menghalangi kendaraan lain atau tidak. Parahnya lagi, tidak semua jalanan di Palembang ada markanya, jadi anda bebas menentukan anda berada di lajur mana.
7. Berbelok dari lajur tengah. Jika anda akan berbelok atau memutar, maka ambillah sisi terdekatnya. Jika anda ingin belok kanan atau putar kanan, maka ambil lajur kanan, jika ingin belok kiri maka ambi lajur kiri. Di Palembang hal tersebut tidak berlaku, anda bisa belok dari lajur manapun yang anda suka.
8. Suka berhenti seenaknya, ini terutama dilakukan oleh angkutan umum, maklum mengejar setoran. Berhentinya tidak perduli apakah posisinya menghalangi kendaraan di belakangnya atau tidak. Baik kendaraan umum maupun pribadi sering saya jumpai berhenti tepat sebelum atau sesudah belokan, posisi ini sangat menyulitkan kendaraan yang akan masuk atau keluar belokan tersebut. Lebih parahnya lagi, si sopir malah asik baca koran di dalam.
9. Kemudian saya mencatat kondisi para penyeberang jalan di pangkal jembatan Ampera. Seharusnya pangkal jembatan tidak boleh menjadi tempat penyeberangan (kecuali dibangun jembatan penyeberangan). Karena kendaraan bermotor yang keluar dari jembatan hampir semuanya kecepatannya tinggi akibat posisi jalan yang menurun, sedangkan yang akan masuk ke jembatan selalu terhambat penyeberang jalan, angkot dan bis kota yang berhenti. Bagi yang akan keluar jembatan harus mengerem dengan sigap untuk memberi jalan kepada para penyeberang, kendaraan di belakangnya juga harus tidak kalah sigap, kenyataannya seringkali serempetan kerap hampir terjadi di pangkal jembatan karena kendaraan yang tetap melaju kencang. Sedangkan bagi kendaraan yang akan masuk jembatan cenderung tidak sabar karena terhalangi oleh angkot dan bis kota yang berhenti memakan hampir seluruh badan jalan sehingga menimbulkan antrian panjang.
10. Pengendara dari lorong. Sering saya jumpai pengendara yang keluar dari sebuah jalan/lorong ke jalan raya tidak melihat kiri atau kanan, pokoknya main keluar saja. Tidak hanya motor, mobil juga seperti itu. Kalau kendaraan yang melaju di jalan raya dengan kecepatan lambat mungkin masih bisa mengerem dengan kesal, tapi kalau kendaraan yang melaju tersebut kecepatan tinggi dan mobil truk misalnya, bisa-bisa berakhir di RS Charitas.
Mungkin di Palembang semua kondisi di atas sudah lazim, toh selama ini juga lalu lintas Palembang masih lancar dan normal tingkat kemacetannya. Memang jika kita membandingkan tingkat kemacetan Palembang dengan kota lain, Palembang relatif masih lebih lancar. Namun di sisi lain, ketertiban, kenyamanan, keamanan, dan kedisiplinan berkendara di Palembang masih kalah bila dibandingkan dengan kota besar lain, misal Jakarta atau Surabaya.
Mungkin di kota lain pun kondisi di atas lazim terjadi, namun frekuensinya sangat berbeda. Di Palembang, kondisi – kondisi di atas sangat sering ditemui dan seakan sudah menjadi budaya lalu lintas. Seakan semua pengendara tidak peduli akan keselamatan dirinya sendiri atau keselamatan pengendara lain. Dengan kata lain ”sadar tidak sih ada pengendara lain?”. Karena kalau sudah berkendara maka seakan-akan dialah satu-satunya pengendara yang paling hebat dan benar.
Sebagai pendatang di kota Pempek ini terkadang saya merasakan kegalauan, pada saat pertama kali ke Palembang yang terbayang adalah kota yang rawan penusukan, penjambretan, penodongan, pembunuhan, premanisme, dan sederet kekerasan lainnya yang menjadi image negatif Palembang. Tiada hari tanpa berita dari Palembang alam program berita kriminal di televisi, sekecil apapun porsinya. Cerita legenda para ”Duta” dari Kayu Agung yang herannya justru dibanggakan?. Namun seiring kemajuan yang dicapai maka sedikit demi sedikit image itu mulai terkikis, Palembang kini mulai hidup di malam hari, hotel, rumah makan, toko-toko dan mal bertebaran, aparat kepolisian bekerja keras mengamankan kota dan Palembang kini lebih nyaman ditinggali dan menjadi tujuan investasi. Visit Musi Year 2008 bisa menjadi tonggak perubahan citra Palembang yang negatif selama ini agar Palembang menjadi kota yang teratur lalu lintasnya, kota Wisata Sungai, Wisata Sejarah, Metropolis yang BARI (Bersih, Aman, Rapi, Indah) menjadi kenyataan.